Hipertensi Dalam Kehamilan / Pre-Eklampsia Dan Eklampsia

image_pdfimage_print

Apa sih Pre-Eklampsia itu?

Pre-eklampsia sering juga disebut toxemia atau keracunan, yaitu kondisi ibu hamil yang ditandai dengan tekanan darah yang tiba-tiba meningkat disertai kadar protein tinggi didalam urinnya. Terjadi pembengkakan akibat timbunan cairan pada kaki, tungkai dan tangannya yang sulit hilang , wajahnya sembab. Penyebabnya yang tepat belum diketahui secara jelas. Namun hal ini dapat mengancam nyawa ibu dan bayinya.

 Apa saja ciri-ciri Pre-eklampsia?

Selain tanda-tanda adanya pembengkakan, protein dalam urin dan tekanan darah tinggi, tanda-tanda pre-eklampsia yang lain adalah :

  • Kenaikan berat badan yang cukup signifikan karena meningkatnya cairan dalam tubuh
  • Sakit pada ulu hati
  • Sakit kepala yang hebat
  • Perubahan gerak refleks
  • Urin berkurang atau sulit berkemih
  • Pusing
  • Mual dan muntah berlebihan

 Apa sih Eklampsia itu ?

Eklampsia adalah puncak dari kondisi pre-eklampsia yang berlanjut akibat terlambatnya penanganan ketika wanita hamil masih dalam kondisi pre-eklampsia. Selain tanda-tanda yang sudah disebutkan sebagai gejala pre-eklampsia, maka pada fase eklampsia jika terlambat ditangani akan menyebabkan ibu dalam kondisi koma dan meninggal, yang bisa terjadi pada sebelum kelahiran, saat proses kelahiran ataupun pasca persalinan.

 Apakah Setiap Pembengkakan Berarti Pre-Eklampsia ?

Sebagian wanita hamil juga mengalami pembengkakan pada kaki dan tangannya namun masih dibilang normal. Bisa jadi karena terlalu banyak berdiri atau sebaliknya terlalu banyak duduk. Jika hanya bengkak seperti ini biasanya dengan beristirahat meluruskan kaki atau merendam kaki dengan air hangat diberi garam sudah cukup. Namun jika disertai ciri-ciri seperti di atas maka sebaiknya segera periksakan ke dokter Anda.

Siapa yang berisiko terkena pre-eklampsia ?

Pre-eklampsia sering ditemukan pada wanita yang baru pertama kali hamil pada usia yang masih amat belia atau sebaliknya pada wanita yang sudah melewati usia 35-40 tahun saat baru pertama hamil. Faktor resiko lainnya antara lain :

  • Yang punya riwayat penyakit darah tinggi selama kehamilan.
  • Ada riwayat keluarga yang juga terkena pre-eklampsia saat kehamilan.
  • Ada riwayat pre-eklampsia pada ibunya dan saudara wanitanya.
  • Berat badan berlebih dimasa kehamilan.
  • Mengandung bayi kembar.
  • Punya riwayat penyakit diabetes, jantung, lupus, ginjal atau rheumatoid arthritis.

 Ada 3 tingkatan keparahan eklampsia

  • Pre-eklampsia ringan dengan ciri meningkatnya tekanan darah sedikit diatas 140/100, disertai urin mengandung proteinuria ( protein serum).
  • Pre-eklampsia tingkat sedang dengan tensi darah diatas 140/100 disertai pembengkakan di jari tangan, jari kaki dan wajah.
  • Pada kasus pre-eklampsia berat, dengan sakit kepala hebat tensi darahpun diatas 160/110. Penglihatan kabur dan sulit buang air kecil. Jika tidak ditangani segera akan mengarah menjadi eklampsia.

EKLAMPSIA AKAN MENYEBABKAN IBU HAMIL MENGALAMI KEJANG-KEJANG, PINGSAN DAN KOMA. BAHKAN BISA MENGARAH KEPADA KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG, TERGANGGUNYA FUNGSI PARU DAN TERSENDATNYA METABOLISME TUBUH.

Apa efek pre-eklampsia kepada bayi ?

Pre-eklampsia mengakibatkan plasenta tidak cukup menerima pasokan darah yang dapat berdampak bayi dilahirkan dengan berat badan rendah. Ini juga yang menjadi biang kerok bayi lahir prenfiatur, bahkan dapat mengakibatkan penyakit lain yang diderita bayi kelak pada pasca kelahirannya seperti epilepsi, Cerebral palsy, kesulitan belajar, bermasalah pada pendengaran dan penglihatannya.

 Bagaimana meminimalkan pre-eklampsia dan eklampsia ?

  • Perhatikan menu makanan sehari-hari, dengan banyak makan sayur, buah dan yang mengandung zat gizi lainnya.
  • Mengurangi asupan garam.
  • Mengukur tensi darah secara teratur.
  • Periksakan kehamilan secara teratur.
  • Siapkan fisik dan mental sebaik-baiknya. Libatkan pasangan agar anda berdua dapat melalui masa kehamilan sampai saat melahirkan bersama-sama.

Mengingat menu makanan Asia banyak mengandung karbohidrat ( nasi dll ), maka sudah selayaknya diimbangi dengan protein, sayur dan buah yang memadai. Dengan menu makanan sehat berimbang maka ibu dapat terhindar dari pre-eklampsia dan eklampsia. Meskipun Prof Dr.AH Khomsan, guru besar dari IPB yang juga pakar gizi meragukan kaitan antara makan nasi dengan preeklampsia–eklampsia.

 Apa yang akan terjadi pada ibu dan bayinya ?

Pre-eklampsia menghalangi plasenta (yang menyuplai oksigen dan makanan ke bayi anda) dari kecukupan asupan aliran darah. Jika plasenta tidak dapat mengaliri cukup darah, maka bayi akan kekurangan oksigen dan makanan. Inilah yang membuat bayi lahir dengan berat rendah dan akibat lainnya. Namun sebagian besar wanita yang menderita pre-eklampsia karena penanganan yang tepat, dapat melahirkan dengan selamat dan bayinya sehat. Tapi kalau kondisi pre-eklampsia telat ditangani akan berkembang menjadi eklampsia yang membuat ibu pingsan, koma atau bahkan sampai kematian. Untunglah pre-eklampsia biasanya sudah bisa diketahui segera. Karena setiap bulan ibu rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter. Sehingga setiap ada perubahan yang serius, dokter akan segera melakukan tindakan.

Kelainan pada kehamilan seperti ini secara internasional disebut pula Pregnancy Induced Hypertension atau kehamilan yang mengindikasi tekanan darah.

TANDA-TANDA PRE-EKLAMPSIA ADALAH JIKA SETELAH KEHAMILAN MEMASUKI USIA 20 MINGGU TIBA-TIBA TEKANAN DARAH MENINGKAT SAMPAI 150/110 DISERTAI SERING PUSING DAN ADANYA PEMBENGKAKAN PADA JARI-JARI TANGAN, TUNGKAI KAKI DAN WAJAH PUN IKUT MEMBENGKAK ( SEMBAB )

Bagaimanakah cara mengobati Pre-eklampsia dan Eklampsia ?

Satu-satunya cara untuk menyembuhkan pre-eklampsia dan eklampsia adalah dengan menyegerakan kelahiran jabang bayi. Namun tidak semua bisa segera dilakukan, karena harus melihat apakah bayi sudah cukup umur atau cukup berat badannya untuk mampu bertahan hidup. Pada kasus pre-eklampsia yang tidak terlalu parah ( tekanan darah lebih tinggi dari 140/90), yang terjadi setelah kehamilan 20 minggu, pada wanita yang tidak menderita tekanan darah tinggi sebelumnya, dan atau yang kadar protein pada urinnya rendah dapat dirawat dirumah atau di rumah sakit dengan pengawasan dokter.

Jika bayi belum bisa dilahirkan, maka kondisi anda akan dipantau terus sampai bayi dapat lahir dengan selamat. Dokter akan menyarankan anda untuk bedrest dirumah atau di rumah sakit, pengobatan dilanjutkan untuk memperpanjang usia kehamilan dan meningkatkan kesempatan bayi anda untuk bertahan hidup. Jika saatnya tiba maka anda akan menerima induksi saat menjelang persalinan.

Perlakuan pada pre-eklampsia yang lebih parah ( penglihatan mendadak kabur, napas sesak, sakit pada ulu hati, membahayakan janin, atau ciri dan gejala lain) maka kemungkinan dilakukan tindakan darurat menyegerakan persalinan demi keselamatan bayi dan ibunya. Perlakuan dimaksud termasuk diantaranya :

  • Menyuntikkan cairan magnesium untuk mencegah dampak lebih luas akibat pre-eklampsia, dibawah pengawasan ketat dokter yang menangani anda.
  • Hydralazine atau obat antihypersensitive lain untuk menjaga stabilitas tekanan darah. ‘
  • Memonitor asupan cairan ke tubuh ibu, di bawah pengawasan dokter yang menangani anda.
  • Bed-rest, disarankan untuk berbaring dibagian kiri tubuh anda.
  • Banyak minum.
  • Menurunkan rangsangan stres dengan berada di ruangan yang nyaman dan membuat anda relaks.
  • Meningkatkan asupan makanan mengandung protein tinggi ( susu, telur, daging sapi, ikan, daging ayam, protein nabati ).

 Pencegahan terbaik terhadap preeklampsia : Deteksi dini

Lakukan kontrol kehamilan agar preeklampsia dapat didiagnosa dan diobati. Tindakan dokter biasanya seperti mengecek tekanan darah dan mengambil sampel urin. Dengan Doppler USG, dokter juga dapat memeriksa pembuluh darah plasenta, melihat perubahan dalam struktur dan dengan demikian awal gejala dari preeklampsia dapat diketahui dari pendeteksian dini.

Mencegah dan memulihkan gejala preeklampsia

Karena penyebab preeklampsia tidak dipahami dengan baik, dokter dan bidan sering menyarankan tindakan hamil untuk meredakan gejala pada khususnya. Diantara langkah-langkah yang disarankan meliputi :

  • Cobalah makan makanan yang seimbang, kaya akan protein dan garam.
  • Seringlah anda berolahraga, terutama berenang, berjalan dan senam.
  • Hindari kecemasan dan stres dengan bersantai, selalu mengambil cuckup istirahat.
  • Jika anda sudah didiagnosis pada stadium lanjut preeklampsia yang lebih baik berhenti berkegiatan seperti bekerja, sehingga dianjurkan dokter untuk bed rest.
  • Mungkin dokter meresepkan obat anti-hipertensi.

 Penyebab preeklampsia

Penyebab preeklampsia belum diketahui, tapi dapat dianalisi dari hipotesis berikut :

Ilmuwan AS sedang mempelajari hipotesis bahwa preeklampsia disebabkan oleh kerusakan plasenta. Melalui faktor genetik dan imunologi, serta kurangnya adaptasi dari pembuluh darah di plasenta. Faktor tersebut mengganggu sirkulasi antara ibu dan janin. Gangguan ini, pada gilirannya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.

Peneliti Eropa memiliki lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa masalahnya adalah dilapisan dalam pembuluh darah, yang akan memiliki konsekuensi yang sama seperti teori Amerika. Apa yang dapat menyebabkan masalah ini, masih belum jelas.

Saat ini hipotesis mengarah pada kemungkinan diet yang buruk sebagai kemungkinan penyebab preeklampsia. Ini bisa menyebabkan penebalan darah dan menyebabkan gejala. Juga, kurangnya adaptasi untuk kehamilan. Sebagai contoh, sebuah peningkatan kecil dalam jumlah timbal dalam darah dapat menyebabkan retensi air dan penyempitan pembuluh darah.

Jika anda terdiagnosis prereklampsia, tidak ada alasanuntuk khawatir. Berpikirlah bahwa kehamilan anda dapat berkembang secara normal tanpa resiko berlebihan. Setelah lahir, gejala preeklampsia menghilang lagi, dan bahkan dengan kehamilan baru bisa jadi tidak terjadi lagi.

KETUBAN PECAH DINI ( KPD )

DEFINISI

Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu (Cunningham, Mc.Donald, gant, 2002).

Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan berlangsung (Manuaba,2002).

Ketuban Pecah Dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

PENYEBAB

Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :

  1. Inkompetensi Serviks ( Leher Rahim )

Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar.

Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan congenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi.

Peninggian Tekanan Inta Uterin

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya

a. Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis.

b. Gamelli

Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gamelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung ( selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah.

c. Makrosomia

Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, menyebabkan selaput ketuban menjadi teregang, tipis, dan kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.

d. Hidramnion

Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >200 ml. uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah peningkatan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja.

3. Kelainan Letak Janin dab Rahim : letak sungsang, letak lintang.

4. Kemungkinan Kesempitan Panggul : bagian terendah belum masuk PAP ( Sepalo Pelvic Disproporsi ).

5. Karioamnionitis

Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina ke atas. Dua faktor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban >24 jam dan persalinan lama.

6. Penyakit Infeksi

Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang menyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.

7. Faktor Keturunan ( Ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik )

8. Riwayat KPD sebelumnya

9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban

TANDA DAN GEJALA

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak dibawah biasanya “mengganjal” atau “ menyumbat” kebocoran untuk sementara.

Demam, bercak vagina yang banyak , nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

DIAGNOSIS

  •  Pastikan selaput ketuban pecah.
  • Tanyakan waktu terjadi pecah ketuban.
  • Cairan ketuban yang khas jika keluar cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.
  • Jika tidak ada dapat dicoba dengan menggerakkan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan.
  • Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazintes), jika lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya cairan ketuban (alkalis). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7, 1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendr leher rahim, dan air seni.
  • Tes pakis, dengan meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.
  • Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan Kristal cairan amniom dan gambaran daun pakis.
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
  • Tentukan ada tidaknya infeksi.
  • Tanda-tanda infeksi adalah bila suhu ibu lebih dari 38 derajat Celcius serta cairan ketuban keruh dan berbau.
  • Leukosit darah lebih dari 15.000/mm3.
  • Janin yang mengalami takikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.
  • Tentukan tanda-tanda persalinan.
  • Tentukan adanya kontraksi yang teratur
  • v  Periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif ( terminasi kehamilan ).

Pemerikasaan Diagnostik

 a. Ultrasonografi

Ultrasonografi dapat mengidentifikasikan kehamilan ganda, anormaly janin atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis.

b. Amniosintesis

Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin.

c. Pemantauan Janin

Membantu dalam mengevaluasi janin

d. Protein C-reaktif

Peningkata

n protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan karioamnionitis

PENGARUH KPD

  • Terhadap Janin :Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi ( amnionitis, vaskulitis ) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
  • Tehadap Ibu : Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama , maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.

KOMPLIKASI KPD

Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat terjadi infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan normal.

  1. Persalinan Prematur: Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
  2. Infeksi: Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi Karioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya tarjadi karioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban pecah dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
  3. Hipoksia dan asfiksia: Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
  4. Syndrom deformitas janin :Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal.

PENANGANAN KPD

1. Konservatif

Rawat di rumah sakit

Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusi oplasenta

Jika ada tanda-tanda infeksi ( demam dan cairan vagina berbau ), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis

Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu :

  • Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin
  • Ampisilin 4x500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per oral 3x perhari selama 7 hari.

Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, beridexametason, dosisnya IM 5mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin.

Jika usia kehamilan sudah 32-37 minggu dan sudah inpartu, tidak ada infeksi maka berikan tokolitik, dexametason, dan induksi setelah 24 jam.

2. Penanganan Aktif

Kehamilan lebih dari 37 minggu, induksi dengan oksitosin

Bila gagal Seksio Caesaria dapat pula diberikan misoprostol 25 mikrogram – 50 mikrogram intravaginal tiap 6 jam max 4 x.

Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri.

Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini adalah sebagai berikut :

  1. Pertimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktu apakah 6, 12 atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram.
  1. Terdapat tanda infeksi intra uteri. Suhu meningkat lebih dari 38°c, dengan pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan kultur air ketuban.

Penatalaksanaan Lanjutan

  1. Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului kondisi ibu yang menggigil.
  2. Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan adalah tindakan yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal. Pemantauan DJJ ketat dengan alat pemantau janin elektronik secara kontinu dilakukan selama induksi oksitosin untuk melihat tanda gawat janin akibat kompresi tali pusat atau induksi. Takikardia dapat mengindikasikan infeksiuteri.
  3. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu.
  4. Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan, perhatikan juga hal-hal berikut :
    1. Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa
    2. Bau rabas atau cairan di sarung tangan anda
    3. Warna rabas atau cairan di sarung tangan
  5. Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh gambaran jelas dari setiap infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan suhu tubuh akibat dehidrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>